MAKASSAR — Mengusung tema “Bersatu dalam Silaturahmi, Bergerak Bersama untuk Kemaslahatan Ummat”, Halal Bihalal Pimpinan Cabang (PC) Muslimat NU Kota Makassar yang digelar di Masjid HM. Asyik, Jl. Pettarani, Sabtu 15 Maret 2026, berlangsung penuh khidmat, hangat, dan sarat makna kebersamaan.Kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang temu pasca Ramadhan, tetapi menjelma menjadi ruang penguatan ruh kolektif gerakan. Dalam suasana yang penuh keakraban dan kekeluargaan, undangan yang hadir bahkan membeludak, menembus lebih dari 150 peserta, melampaui target awal panitia yang hanya menyiapkan sekitar 100 orang. Lonjakan kehadiran ini menjadi cerminan nyata betapa kuatnya ikatan silaturahmi di tubuh Muslimat NU Makassar.Ketua Panitia, Hj. Darmawati Sawedi, S.Ag., M.Ag., mengaku terharu melihat antusiasme para kader. “Alhamdulillah, kehadiran peserta jauh di atas ekspektasi. Ini adalah berkah sekaligus amanah. Kami mohon maaf jika ada kekurangan dalam pelayanan karena membludaknya peserta,” ungkapnya dengan penuh syukur.

Sementara itu, Ketua PC Muslimat NU Kota Makassar, Hj. Husna Alimuddin, S.Ag., M.A., menegaskan bahwa tema yang diusung bukan sekadar rangkaian kata, melainkan harus menjadi ruh yang menggerakkan langkah organisasi. Ia mengapresiasi kerja keras para Ketua PAC yang berhasil menggerakkan kader hingga hadir dalam jumlah besar.“Ini adalah bukti nyata bahwa silaturahmi bukan hanya dijaga, tetapi dihidupkan. Mari kita jadikan momentum ini sebagai energi baru untuk terus berinovasi dan menghadirkan program-program yang memberi manfaat bagi agama, masyarakat, dan bangsa,” tegasnya.Hikmah Halal Bihalal disampaikan oleh Prof. Hj. Nurlaelah Abbas Lc., M.Ag, yang mengurai makna mendalam dari tema kegiatan tersebut. Beliau menegaskan bahwa Halal Bihalal adalah momentum spiritual untuk melebur dosa, memperbaiki hubungan, dan menyempurnakan ibadah Ramadhan.Menurutnya, ada tiga hikmah utama yang harus menjadi pijakan dalam menggerakkan organisasi menuju kemaslahatan ummat.Pertama, mensucikan hati. Ia menekankan pentingnya membersihkan jiwa dari penyakit hati seperti iri, dengki, dan kesombongan. “Nilai tertinggi dalam memaafkan adalah ketika kita memberi maaf sebelum diminta. Hati yang bersih adalah fondasi utama dalam bergerak bersama,” ujarnya.Kedua, menguatkan silaturahmi. Kehadiran ratusan kader menjadi bukti konkret bahwa semangat persatuan masih terjaga. “Silaturahmi bukan hanya memperpanjang umur dan melapangkan rezeki, tetapi juga memperluas keberkahan yang berdampak pada kemaslahatan ummat,” lanjutnya.Ketiga, mengokohkan tiga pilar ukhuwah: ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah. Ia menegaskan bahwa ketiganya harus berjalan beriringan sebagai landasan dalam membangun peradaban yang berkeadaban dan berkeadilan.Dalam penutupnya, Prof. Nurlaelah mengingatkan bahwa tidak ada manusia yang luput dari kesalahan. Karena itu, saling memaafkan bukan hanya tradisi, tetapi kebutuhan spiritual yang mendalam. “Dari maaf itulah lahir kekuatan untuk bersatu, dan dari persatuan itulah kita mampu bergerak bersama menuju kemaslahatan ummat,” pungkasnya.
Sebagai penutup yang merangkum seluruh denyut acara, Halal Bihalal ini seakan menegaskan bahwa silaturahmi bukanlah sekadar ritual tahunan yang berakhir pada jabat tangan dan senyum formalitas, melainkan sebuah perjalanan batin yang menuntut keikhlasan, kejujuran hati, dan kesediaan untuk merendahkan ego demi merawat persaudaraan. Dari hati yang saling memaafkan, tumbuh kepercayaan; dari kepercayaan lahir kebersamaan; dan dari kebersamaan itulah terbangun kekuatan kolektif yang mampu menembus batas-batas kepentingan pribadi menuju kemaslahatan yang lebih luas. Maka, ketika silaturahmi dijaga dengan kesadaran, dan kebersamaan dirawat dengan keikhlasan, sesungguhnya di situlah peradaban dibangun perlahan, tenang, namun pasti, menuju ummat yang lebih berdaya, bermartabat, dan diridhai. (Ismawati Abbas)Dosen UIN Alauddin Makassar

